Sunday, 26 April 2015

Nota rapi




Dulu, aku pernah percaya bahawa suatu hari  kita akan bahagia.




Aku tahu, kita begitu berbeza dalam segalanya. Gadismu ini penyendiri, sementara kamu lelaki muda bisa bersosialisasi. Kamu punya banyak kawan di luar sana, sedang aku bertemu orang yang baru dikenal saja sudah tidak terbiasa rasanya.

Tapi kamu membuatku percaya bahawa suatu hari semua perbezaan ini akan menemui muaranya. 


Kubayangkan suatu hari kamu akan mengerti cara bicaraku yang aneh.  Bahawa kadang erti tidak sakit ertinya sakit sekali.  Terserah dengan mahumu. Kita akan berbicara banyak hal yang sama.  Menggumamkan lagu yang kita gemari.  Sesekali bertukar pandangan, barangkali.



Menemukanmu pernah jadi satu-satunya alasan aku tak berhenti berjuang.



Bagiku kamu adalah muara kehidupan, membuat seluruh duniaku berputar. Tapi bagaimana dengan diriku di matamu?



Mati-matian aku berkorban. Hanya bersamamu aku pernah menjelma jadi wanita yang mahu mengerjakan apa saja, selama kau suka. Kau minta aku memasak? Aku belajar sebisanya, meski kuyakin potongan kentangku masih jauh dari sempurna.




Dalam semua tindak kecil itu, tak bisakah kau temukan setitik saja rasa cinta? Aku yang memang tak ada pesona, atau kau yang tak punya hati sebagai manusia?


Kucintai kau sebisanya, kau cintai ku sewajarnya. Dan seperti sudah kuduga sebelumnya, cinta kita punya masa kadang luar biasa. Kau memilih dia, yang bisa mendapatkan cintamu tanpa perlu banyak usaha.



Aku memilih pergi bukan karena kau tak lagi kucintai. Izinkan aku mencintaimu dengan caraku sendiri

Kadang, aku tak bisa memilih lagi. Mana yang pantas bagimu dan bagiku. Mana yang tidak menyakiti. Dimana kita seharusnya berdiri.

Aku, memutuskan. Pergi.




No comments:

Post a Comment